#pathdaily

View on Path

Iklan

Backsong untuk cerpen ‘untukmu, yang akan selalu berada disana’

Ini di peruntukkan bagi kalian-kalian yang ingin membaca cerita diatas dengan feel yang lebih dalam.

1. Download backsongnya disini :https://www.mirrorcreator.com/files/0GQXRXPT/5__________.PianoSolo.mp3_links

2. Putar dari awal cerita juga boleh. Tapi kalau mau saran sih, putar pas di bagian “Aku tak tahu harus berbuat apa lagi!”… Mungkin lebih bagus lagi.

3. Terimakasih sudah mau membaca cerita ini! ^o^. Arigatou…

Cerpen “untukmu, yang akan selalu berada disana”

Diikutkan Dalam Lomba Cerpen ‘Angels of Morning Star Club’

Aku menatapnya. Menatap mata dan wajahnya yang melukiskan senyum cerah. Bersanding dengan kelopak-kelopak bunga sakura yang berjatuhan. Dari sini. Dari sebuah ruang kelas di lantai dua, dimana seorang guru sejarah sedang berbicara tentang dunia yang tidak ku mengerti. Dunia yang tidak kukenal. Karena aku sedang melihat duniaku saat ini. Dari sini. Dari sebuah bangku di dekat jendela yang menghadap langsung ke arah halaman sekolah. Deret dua dari belakang. Sebuah posisi yang pas untuk melihatnya.

Rambut cokelat panjang miliknya, membuatnya semakin manis dalam balutan pakaian olah raga sekolah kami. Aku tersenyum menatapnya yang bercengkrama dengan teman-temannya. Terlihat bahwa ia menikmati percakapan itu. Kemudian matanya beralih menatapku. Aku tersipu malu. Salah tingkah. Apa yang harus kulakukan? Apakah tetap tersenyum seperti ini ataukah mengalihkan pandanganku darinya? Lalu, aku memutuskannya. Memutuskan untuk membalas senyumnya. Aku tersenyum lebar yang memperlihatkan deretan gigiku yang rapi. Sebuah senyum khas milikku yang selalu berhasil membuatnya tertawa.

Lihat, kan? Dia tertawa. Tawa yang membuatku terlihat seperti orang bodoh katanya, namun aku menyukainya. Entah apapun katanya….

*****************************************************************************

Hiro membuka matanya. Bola matanya berputar mengamati sekitarnya. Gelap. Dimana aku?, batinnya. Ayunan yang di dudukinya berderit pelan, membuat Hiro sedikit menyadari lokasi tempat itu. Beberapa lampu penerang di taman bermain itu, memperjelas sekitarnya. Bak pasir, dua ayunan yang bergerak pelan di sebelah kanannya, dan berbagai permainan lain yang dapat ditemui pada arena taman bermain anak-anak pada umumnya.

Hiro tertegun, kini ia mengingat mengapa ia berada disana. Walau pun rasanya aneh, karena Hiro mengingat bahwa sebelumnya dia sedang dalam perjalanan menuju tempat ini dan kemudian tidak sengaja bertemu dengan Hyugo di sebuah jalan besar. Hiro melirik jam tangannya. 7.30 PM. Lima menit lagi… Lima menit lagi, pikirnya. Ia bangkit dari ayunan dan berjalan menuju tepi taman bermain itu. Kemudian, ia berjalan kesana- kemari dengan resah. Pikirannya berkecamuk. Apa yang harus dikatakannya kepada Hikari tentang keberadaannya disini? Bagaimana seharusnya ia menyapanya? Bagaimana jika ia masih marah? Bagaimana jika Hikari tidak ingin melihatnya? Hiro mengepalkan jemari-jemarinya. Ia mendesah.

Kalau saja… kalau saja ia tidak memasukkan kertas-kertas bertuliskan kata-kata puitis kedalam loker sepatunya. Kalau saja, ia mengakui dia yang menuliskan kata-kata itu untuknya. Kalau saja, ia tidak menyetujui pertunangan mereka. Kalau saja, dia tidak mengakui perasaannya…

Kemudian, mendadak Hiro berhenti bergerak. Sosok yang ditunggunya muncul dari ujung jalan, dari balik bayangan cahaya lampu jalanan yang remang-remang. Kemudian Hiro tersenyum… Hiro melihat seseorang yang selalu menjadi tempat ia mengadu, kala ia menangis karena telah bertengkar dengan adiknya, ketika kecil. Seseorang yang selalu menjadi tempat ia menuangkan segala ketakutan, kekhawatiran dan kemarahannya. Seseorang yang selalu ada untuknya… Ya, seseorang itu adalah orang yang selalu Hiro pandang dengan diam-diam dari ruang kelasnya, ketika gadis itu mengikuti pelajaran olahraga. Atau hanya sekedar makan siang bersama teman-temannya. Atau berbincang dengan orang yang di sukainya…

Hikari cukup terkejut saat melihat Hiro muncul dari taman bermain didepannya. Padahal Hikari sudah menduga bahwa Hiro pasti mengetahui jadwal kegiatannya selama musim panas ini. Karena dia adalah teman masa kecilnya, dan sekaligus tunangannya. Hiro tersenyum saat tatapan mata mereka bertemu, walaupun itu menyakitkan bagi Hiro sendiri. Tidak ada ruang bagi sosok Hiro untuk berada disana. Di matanya. Hiro tahu bahwa, wajah datar miliknya menandakan kemarahan bukannya sambutan. Namun, perasaan ini harus di akhirinya… Perasaan yang membuat dunia Hiro yang damai menjadi berantakan.

Perasaan yang dimulai ketika ia sering membantu Hikari dengan menuliskan puisi-puisi yang memberikan semangat, ketika Hikari dalam masa-masa sulit. Lalu, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang Hikari kira bahwa dia adalah orang yang selalu menuliskan puisi itu untuknya. Dan ia mulai menyukai laki-laki itu…

Hiro menarik nafasnya dalam-dalam. Tidak mudah baginya untuk membiarkan kata-kata keluar dari mulutnya. Jujur Hiro memang tidak menyukai laki-laki itu. Hiro merasa pertunangan ini adalah keuntungan baginya. Ia kira bahwa ia akan bisa membuat Hikari menyukainya, namun Hikari selalu tersenyum dengan terpaksa saat ia mencoba menghiburnya. Ia kira bahwa dengan menyatakan perasaannya pada Hikari, mereka berdua akan kembali pada “seperti yang biasa mereka lakukan bersama”. Namun, kenyataan selalu lebih menyakitkan dari pada harapan. Alih-alih “seperti biasa’, Hikari malah marah sambil menangis meninggalkannya. Dan sejak saat itu, Hikari tidak pernah berbicara lagi padanya. Atau pun laki-laki itu…

******************************************************************************

Hiro memandang seorang laki-laki muda di seberang jalan raya. Cukup jelas, sepertinya. Sebab hari itu jalan raya tidak seperti biasanya, sepi dan ia sendiri berdiri di bawah remang-remang cahaya lampu jalanan. Umurnya tidak berbeda jauh dengan Hiro, sekitar 16-17 tahun. Dan Hiro mengenalnya. Begitu pula dengan laki-laki itu. Ia memandang Hiro dengan rasa tak suka kepada Hiro. Hiro menyadarinya, namun Hirro memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain dari pada melakukan hal yang sama kepadanya. Hiro meraba pipi kirinya. Bekas pukulannya terasa berdenyut, di pipinya. Pukulan yang menyadarkan dirinya bahwa selama ini Hikari-lah yang menanggung beban yang sesungguhnya. Hikari yang selalu mencoba menyamankan dirinya dengan pertunangan ini, sebab ia tidak ingin Hiro terluka. Karena bagaimana pun Hiro adalah orang yang juga sangat berharga dalam hidupnya. Karena Hiro adalah sahabatnya. Walau perasaannya sendiri menyakitinya karena ia tidak bisa bersama orang yang disukainya. Sampai kepada hari dimana Hiro menyatakan perasaannya… Ya, dia bodoh. Dia bodoh karena menginginkannya. Dia bodoh karena keegoisannya akhirnya membuat orang yang berharga baginya terluka. Dan pukulan dari laki-laki itu menyadarkannya… Bahwa mungkin ia iblis berwujud manusia…

***************************************************************************

“Aku tak tahu harus berbuat apa lagi!”, serunya marah. “Aku tidak tahu harus bagaimana, lagi!”

Hiro terdiam. Rencana percakapannya yang semula berjalan lancar berujung pada titik ini. Hikari terisak. Kini kemarahan dan keputus-asaannya meluap. Hiro hanya mampu menundukkan wajahnya, tak sanggup melihat Hikari yang terluka seperti ini. Kini ia mengerti. Tidak selamanya cinta yang diungkapkan membuat semuanya bahagia.

“Jika saja…”, katanya sembari mengatur emosinya. “Jika saja kau mengatakannya lebih awal… Mungkin aku…”

“Maaf”, kata Hiro memotong perkataan Hikari. Jemari-jemarinya mengepal kuat. Kemudian ia mengangkat wajahnya dengan perlahan dan berkata, “Maaf membuatmu menjadi terluka.”

Hikari mengusap air matanya yang berjatuhan dengan telapak tangan. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya dari Hiro dan meneteskan air mata lagi.

“Kau tahu bahwa aku menyukainya. Bahwa aku selalu ingin berada disisinya. Tapi, kenapa…. Kenapa…”. Hikari diam dengan air mata yang berjatuhan lagi dari pelupuk matanya.

Hiro hanya diam dengan menundukkan kepala. Dia diam menahan perasaannya. Jantungnya berdetak kencang. Dialah yang memegang potongan-potongannya. Potongan yang tidak di ketahui oleh laki-laki itu ataupun Hikari. Potongan yang menjadi kunci alasan mengapa Hikari menangis. Dan potongan yang akan mengakhiri semuanya. Kemudian ia menutup matanya. Aku tau, katanya dalam hati. Ia menundukkan kepala dan menutup matanya. Membiarkan Hikari melewatinya. Agar perasaan yang ia tahan dapat keluar melalui ujung matanya. Ia dapat melihat Hikari yang berjalan dengan bingung, marah, putus asa, sedih dan tak tentu arah.

Sama seperti mobil yang melaju kencang ke arah Dia sepuluh menit sebelumnya. Saat Hiro bertemu dengan laki-laki itu. Sebelum ia bertemu dengan Hikari. Hiro memegang kepalanya dengan mimik terkejut. Tiba-tiba saja bayangan itu merasuki kepalanya seperti seseorang yang mendobrak pintu yang terkunci. Mobil. Kilatan cahaya. Laki-laki itu. Jalan raya. Hiro terhuyung-huyung namun ia mencoba menahan berat badannya dengan berpegangan pada tiang lampu jalan. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang di balut dengan kesedihan, mengingat betapa menyedihkannya ia. Hiro menetapkan hatinya. Lalu ia berkata tanpa menoleh pada Hikari.

“Aku… Menyukaimu..”, katanya yang membuat Hikari menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Hiro. “Menyukaimu yang berada disana”

“Yang selalu berada jauh di depanku”. Hiro menyadari H&H bukan milik Hiro dan Hikari, tapi Hyugo dan Hikari. Hikari bukan untuk dimilikinya, karena Hikari adalah malaikatnya. Penolongnya… Sedangkan Hiro sendiri… Tidak tahu apa pandangan Hikari terhadapnya.

Seperti layaknya bintang dan bulan yang bisa membuatmu bahagia saat kau melihatnya dari jauh. Karena mereka hanya bisa dipandang tanpa dimiliki. Saat kau memilikinya, kau sadar… bahwa mereka indah ketika dilihat dari jauh.

Hiro pun mengadahkan wajahnya ke langit diatasnya lalu berkata, “Aku menyukaimu yang selalu berdiri disana” Mungkin cinta tanpa memiliki itu benar.

“Oleh karena itu…” Kemudian Hiro membalikkan badannya dan menatap Hikari yang berada beberapa meter di depannya. Lalu berkata, “Tetaplah disana”

“Tetaplah berdiri di sana, jauh di depanku. Karena kau adalah malaikatku. Dan malaikat tidak seharusnya dimiliki”, katanya pelan, seperti berbisik. Hiro menarik nafasnya dan berkata dengan keras, “Tetaplah disana, karena kau adalah sahabatku, yang selalu berada di sisiku dan… Selalu berada disana.”

Hiro tersenyum lembut, walau dia memegang potongan fakta dalam gengamannya. Fakta bahwa ia sengaja menyetujui pertunangan itu. Fakta bahwa ia sengaja mengakui perasaannya. Semuanya di lakukan agar Hikari terluka oleh dirinya dan membencinya. Agar Hikari dapat bebas dari ‘kebaikannya’ dan berlari pada Dirinya, laki-laki itu, Hyugo. Hiro berjuang melawan ke-egoisannya sendiri dan memanfaatkan egonya untuk membuat Hikari terluka. Fakta bahwa ia sengaja berubah menjadi iblis, agar Hikari membencinya. Fakta yang hanya akan digenggam olehnya.

Apakah aku melakukan ini karena Hikari yang selalu ada untukku? Bahkan disaat tersulitku sekalipun?, tanya Hiro dalam hatinya. Apa karena aku ingin menjadi pahlawan? Apa karena aku mencintainya? Huh, cinta itu apa, kalau hanya membuatnya terluka? Pahlawan? Tidak…. Ia menutup matanya dan tersenyum kecil. Aku yakin, bukan karena itu…

“Jadi… Kumohon padamu dengan sangat…”, katanya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya dan berkata dengan senyum khasnya, “Pergilah kepadanya dan juga… maafkanlah aku.”

Hikari menutup mulutnya dan menangis. Senyuman itu… Senyum Hiro yang khas. Senyum Hiro yang selalu membuatnya nyaman dalam keadaan seburuk apapun. Senyum yang akan selalu diingatnya. Dan… Senyum yang menyimpan potongan bahwa ia berlari melewati pembatas jalan menuju laki-laki itu.

Hikari tersenyum walau diiringi beberapa bulir air mata yang jatuh di pipinya. Baginya, inilah Hiro yang ia kenal. Hiro yang selalu tersenyum memandangnya. Yang selalu ada untuknya.

“Jadi apa aku di maafkan?”, tanya Hiro.

Hikari tersenyum sambil berusaha mengusap air matanya. Lalu ia berkata, “Ah… Benar-benar… Kita benar-benar bodoh bertengkar hanya karena hal ini.”

Hiro memandang tak percaya Hikari yang tersenyum kembali. Rambut cokelat panjang yang berpadu dengan baju putih dan rok abu-abu. Mata yang indah. Dan terakhir… Senyum yang selalu membuatnya merasa hangat kapan pun. Sosok seorang gadis nan rupawan yang tidak akan pernah Hiro lupakan. Bagai sosok seorang malaikat. Sesuai namanya, Hikari (Hikari = Cahaya).

Terimakasih sudah selalu menerangiku. Aku benar-benar bahagia bisa menjadi penolongmu walau tidak banyak yang bisa kulakukan…

Hikari tertawa kecil dan berkata, “Baiklah aku akan memaafkanmu. Lagipula… sudah lama kita tidak bertengkar hebat seperti ini. Terakhir kali kapan ya? Bukannya waktu SMP dulu?”

“Kurasa iya..”, kata Hiro sambil tersenyum. Kini ia bisa menarik nafas lega. Sangat lega.

Kemudian mereka tertawa bersama. Hikari akhirnya merasa lega. Walau pikirannya masih di bebani bagaimana cara mengatasi pertunangannya. Tapi, ah sudahlah! Dengan Hiro, ia merasa bahwa semuanya akan selesai dengan baik.

Hikari memandang cinta pertamanya. Ya, dialah sosok yang pernah membuat Hikari jatuh hati dengan senyum khasnya. Sosok yang selalu Hikari selalu nantikan kisahnya. Karena Hikari ingin dia terus menerus bersandar padanya. Terimakasih Hiro dan selamat tinggal cinta pertamaku, kata Hikari dalam hatinya.

Hiro memandang jam tangannya. Sudah waktunya, pikirnya. Hiro memandang Hikari sekali lagi dengan tatapan mata yang menyembunyikan kebenaran yang menyakitkan…

**************************************************************************************

Hiro berlari kearah Hyugo dengan cepat sebelum akhirnya mobil itu mengarah pada jalur Hyugo. Ia menyeberangi jalan besar itu dan mendorong tubuh Hyugo menjauhi sisi jalan. Malaikat kematian sepertinya melewati Hyugo, namun tidak untuk Hiro. Mobil itu menghantam tubuh Hiro dan mengehempaskannya ke udara sebelum akhirnya Hiro jatuh ke atas trotoar. Hiro mencoba menarik nafasnya, meskipun dadanya terasa sakit. Dia belum ingin mati. Ada yang harus disampaikannya. Ada yang harus diselesaikannya. Saat matanya memandang Hyugo yang terkejut tidak percaya akan apa yang terjadi, membuat tekadnya semakin kuat. Kemudian dengan tubuh yang meraung kesakitan, Hiro menyampaikan sebuah permohonan….

******************************************************************************************

“Kalau begitu pulanglah! Teleponlah dia dan katakan padanya Hiro menitip pesan ‘awas saja kalau kau membuat Hikari menangis’!”, kata Hiro sambil menunjukkan kepalan tangannya.

Hikari tertawa kecil melihat gaya Hiro memperagakannya.

“Kalau begitu… Sampai jumpa”, kata Hikari sambil memberi hormat.

Kemudian Hikari berbalik dan berjalan menjauhi Hiro dengan senyum yang selalu membuat dunia Hiro teralihkan.

“Sekali lagi terima kasih, Hikari… Dan…”, kata Hiro pelan sambil menurunkan tangannya yang melambai ‘bye-bye’. Kemudian ia mentikkan air mata yang membuat pandangannya kabur saat melihat Hikari menjauh. Ia ingin tetap mengingat wajah itu, mata itu, rambut itu dan senyum itu… Tangannya mencoba menggapai bayangan Hikari yang menjauh. Namun ia menariknya kembali dan mencoba mencengkram dadanya yang terasa sakit. Maaf Hikari… Sekali lagi maafkan aku yang menyakitimu. Ia melepaskannya, bersamaan dengan bulir-bulir air mata yang berlari turun di wajahnya. Tetaplah disana bersamanya Hikari… Kaki Hiro pun mulai berpendar. Waktu memutuskan keberadaanya di tempat itu sudah habis. Kerlap-kerlip sinar kecil muncul dan menghilangkan senti demi senti bagian bawah kakinya. Tetaplah menjadi sahabatku… Dan

Handphone Hikari berbunyi setelah ia berjalan beberapa meter dari Hiro. Ia mencari dalam tasnya dan mengangkatnya. Terimakasih Hikari… Terimakasih untuk segalanya… Dan

“Hikari! Hiro…”, suara tangis pecah di seberang sana. Dalam hitungan detik, pupil mata Hikari membesar. Terkejut tidak percaya, Hikari menoleh ke belakangnya.

Hiro tersenyum, saat Hikari membalikkan badannya dan menatapnya dengan terkejut. Dan…Selamat tinggal..”, kata Hiro dengan tubuh yang masih tersisa.

Hikari menjatuhkan handphone dan tasnya lalu berlari menuju Hiro dengan cepat walau… Waktu bergerak lambat. “Hiiirooooooo!!!!!!!”, teriaknya.

HIro menatap wajah panik seorang gadis yang berlari ke arahnya dengan lembut. Hikari… Terimakasih untuk segalanya. Kemudian Hiro memberikan senyum khas miliknya untuk yang terakhir kali. Senyum yang mungkin tidak akan pernah dilihat oleh gadis itu lagi. Tepat saat ujung jemari Hikari menyentuh wajah Hiro yang tersenyum, Hiro menghilang. Digantikan dengan cahaya kerlap-kerlip yang terbang menuju langit yang penuh bintang dan menjadi bagian dari para bintang.

******************************************************************************

Hikari memandang lantai dua ruang kelas itu. Mungkin lebih tepatnya, sebuah bangku di dekat jendela. Deret dua dari belakang. Tidak. Tidak ada lagi senyuman pemilik bangku itu. Tidak ada lagi sosok laki-laki yang kena hukuman karena tidak memperhatikan pelajaran. Tidak ada lagi orang yang akan selalu memandangnya. Tidak akan ada seseorang yang akan berkorban seperti itu untuk dirinya lagi. Bukan. Hiro bukan seorang pahlawan. Hiro bukan seorang malaikat. Ia hanya seorang laki-laki dengan senyum tulus di wajahnya. Seorang sahabat yang sangat, sangat dan sangat berharga bagi Hikari

Hikari meneteskan air mata. Senyum bahagia terlukis diwajahnya, bersanding dengan guguran kelopak-kelopak bunga sakura yang terakhir. Terimakasih, Hiro-kun…